<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-7581121847635820599</id><updated>2011-08-02T12:13:25.931-07:00</updated><title type='text'>hanya sekedar cerita</title><subtitle type='html'>Sumarlin Syam

ADA LAGI YANG KACCAKI INIEEEEEEEE HILANG SEMUA FITURKU KODONG......KUSUMPAHI SEMUAKO JADI MONYET DI TAHUN 2010....MATI MASUK NERAKA....HIDUP TIDAK BAHAGIA</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://maolien.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7581121847635820599/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maolien.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>M@rlin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05373679264799152151</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_F0vhTOurt9I/SyUWy8LvY8I/AAAAAAAAADU/0mfNQ9sHIvQ/S220/Copy+of+Copy+of+Copy+of+102_1148.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>16</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7581121847635820599.post-5198545579241888599</id><published>2009-12-13T07:49:00.000-08:00</published><updated>2009-12-13T07:49:05.388-08:00</updated><title type='text'>BUNGA UNTUK IBU</title><content type='html'>Jum’at pagi diantara rencana yang telah tersusun rapi, aku menuju pertokoan. Alunan suara The Beatles dalam liriknya ‘Mother Nature’s Son’ mengalir lembut dari tape mobilku. Hari ini, ibuku ulang tahun yang ke-60. Ini pertama kalinya aku mengingat ulang tahunnya. Tahun-tahun sebelumnya hanya ayahku yang selalu mengingatnya. Tapi karena ayahku kini sudah beristri lagi, dia sudah lupa, atau pura-pura lupa kalau hari ini adalah hari istimewah ibuku. Sejak menikah lagi delapan bulan lalu, ayahku jarang menjenguk ibuku. Mungkin karena sudah tua, ibuku tidak menarik lagi.  Apalagi penyakit sesak nafas ibuku sering kambuh membuat ayahku tidak tahan. Kini ayahku beristri dengan perempuan yang lebih muda 20 tahun dari ibuku. Ibuku tidak menolak dia menikah lagi. Ibuku sadar jika fungsinya sebagai istri tidak sesempurna dulu lagi. Tapi, kami anak-anaknya menyesalkan keputusan ayah. Arni, kakakku pernah membuat telinga ayah merah, “ayah, coba jadi perempuan. Ayah akan rasakan sakitnya dimadu”. Ibu cepat-cepat menenangkan Arni. “sudah-sudah, ayah masih mencintai kita”. Meski ibu sering menenangkan kami jika kami menggunggat ayah, kami tetap membenci ayah. Kami tidak pernah lagi bertatap muka langsung dengan ayah. Yah…kami membencinya.&lt;br /&gt;Pertokan tidak jauh lagi. Masih dalam lagu The Beatles ‘Cry baby cry’  mengantarku kehalaman salah satu toko bunga. Aku ingin mempersembahkan bunga untuk ulang tahun ibuku.  Aku memilih bunga ‘Baby’s Breath’. Bunga yang menyimbolkan kebahagiaan. Kutanyakan harganya kekasir, tak menyangka harganya lebih murah dari keindahan maknanya.&lt;br /&gt;Setelah bunga itu di permak lebih rapi dan indah, aku bergegas menuju parkiran mobil. Belum sempat aku membuka pintu mobil, terdengar suara tangis anak kecil tidak jauh dari pintu toko bunga itu. Aku menoleh. Seorang anak perempuan sedang menangis menghadap di etalase toko bunga. Penasaran dengan suara tangisnya yang kian keras dan sedih, aku mendekatinya untuk mencari tahu.&lt;br /&gt;“Kenapa menangis?’ tanyaku sambil memegang pundaknya.&lt;br /&gt;“Aku ingin membeli bunga untuk ibuku” suaranya serak, “tapi uangku tak cukup” lanjutnya.&lt;br /&gt;Tanpa berpikir panjang, kuajak anak itu masuk ke toko bunga itu. “pilihlah, nanti aku yang bayar” &lt;br /&gt;“Terima kasih, kak” balasnya&lt;br /&gt;Tampak dia bahagia sekali mengganggam bunga ‘Mawar Merah’. Senyumnya mulai mengembang dan menatap bahagia ke arahku. &lt;br /&gt;“Dimana rumahmu ibu?” aku bertanya di sela-sela kebahagiaannya.&lt;br /&gt;“Di pojok pegunungan ujung jalan ini” dia menunjuk jauh, “kenapa?”&lt;br /&gt;“Aku akan mengantarmu menemui ibumu?”&lt;br /&gt;“Betulkah” dia melompat kegirangan&lt;br /&gt;Didalam perjalanan, anak itu menceritakan betapa baik ibunya. Sangat sayang kepadanya dan selalu giat bekerja. Pagi-pagi buta, dia sudah bangun mempersiapkan sarapan kami. Menyiapkan seragam ayahnya, sekolahnya, dan membereskan semua yang berantakan.&lt;br /&gt;“Ibumu ulang tahun hari ini?” aku bertanya sekenanya saja. Dia hanya tersenyum tanpa jawaban atau anggukan. Kuterka saja, mungkin ibunya ulang tahun hari ini. Sama dengan ibuku. &lt;br /&gt;“Bunga itu untuk siapa?” dia balik bertanya&lt;br /&gt;“Untuk ibuku juga”&lt;br /&gt;“Ibumu sudah meninggal?” tanyanya serius&lt;br /&gt;“Masih hidup, hari ini ulang tahunnya” Aku merasa heran dengan pertanyaannya. Semoga itu bukan do’a. Tiba-tiba mukanya menjadi sedih. Berubah begitu cepat.&lt;br /&gt;“Kita berhenti di sini” pintanya dengan suara datar&lt;br /&gt;“Ini kan pekuburan?” aku semakin heran&lt;br /&gt;“Ibuku sekarang tinggal di sini” dia membuka pintu mobil dan berjalan lambat kedalam pekuburan. Aku mengikuti langkahnya dari belakang sambil menengok kiri-kanan mencari rumah ibunya yang dimaksud. Tapi di pekuburan itu tak satu pun rumah yang nampak. Hanya kuburan berderet tak teratur. Tak sepatah kata pun aku ucapkan dari heran yang semakin menyelimutiku. &lt;br /&gt;Di tengah-tengah pekuburan, dia berhenti. Dia duduk bersimpuh di sebuah kubur dengan tanah yang masih basah. Di letakkannya bunga Mawar Merah di batu nisan. Kurasakan ratap sedih di dalam hatinya. Dia menutup mata. Berdo’a.&lt;br /&gt;Tak lama aku memperhatikan keadaannya. Segera aku meninggalkannya dalam kekhusyukan. Di dalam mobil, The beatles kembali mengiringi perjalanannku ke rumah ibuku. Alunan suaranya yang sangat merdu dalam lagunya ‘Let it be’. Dalam hati aku berdo’a. Semoga ibu dalam keadaan gembira menemuiku hari ini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7581121847635820599-5198545579241888599?l=maolien.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maolien.blogspot.com/feeds/5198545579241888599/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://maolien.blogspot.com/2009/12/bunga-untuk-ibu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7581121847635820599/posts/default/5198545579241888599'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7581121847635820599/posts/default/5198545579241888599'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maolien.blogspot.com/2009/12/bunga-untuk-ibu.html' title='BUNGA UNTUK IBU'/><author><name>M@rlin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05373679264799152151</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_F0vhTOurt9I/SyUWy8LvY8I/AAAAAAAAADU/0mfNQ9sHIvQ/S220/Copy+of+Copy+of+Copy+of+102_1148.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7581121847635820599.post-6597174979160796678</id><published>2009-09-22T08:05:00.003-07:00</published><updated>2009-09-22T08:05:31.904-07:00</updated><title type='text'>MENUNGGU SATU KALIMAT</title><content type='html'>Suatu saat, ketika kau berdiri di atas bukit. Mendengarkan desir angin lembut yang menjalar kedalam hatimu dengan bunyi serasi. Menatap kabut dan takjub seketika. Ketika melihat cahaya kelap-kelip muncul dari kabut. Banyak kelap-kelip, beterbangan kian terang kian dekat menuju batu tempatmu berdiri.  &lt;br /&gt;Lalu kau lantumkan banyak syair tentang semburan gunung dan malapetaka laharnya. Syairmu dari malam. Malam yang tak bisa kau lawan, tak ingin kau lawan, namun enggan kau titipkan untuk setahun, dua tahun, atau beribu-ribu tahun yang akan datang. Lalu kau menoleh pada kehendak, yang memiliki kehendak. Semesta ilmunya yang rapuh bercerita kepastian, keteraturan, yang teracak olehmu. Setujunya akan lenyap oleh banyak kemungkinanmu dan ketidakmungkinanmu.&lt;br /&gt;Diantara banyak syair, ada sedikit sunyi. Sesaat menyadari, kekacauan; mengintip, berdesir, berbisik, sembunyi di balik keteraturan yang membatu dan sebentuk hutan rimba. &lt;br /&gt;Di ruang-ruang putih, kau sengaja menjatuhkan huruf-huruf hitam tak berbentuk. Patah dan tumpang tindih. Kalimat-kalimat putus sebelum mencapai tepian kertas. Namun serupa teriakan, serupa syair yang kau lantumkan di atas bukit. Ketika kau menatap sekitar, tampak banyak hantaman kata-kata, bukan nyawa-nyawa. Banyak kalimat, dan kau butuh satu saja kalimat. Yang membuat mata ternganga. Sayang kau tak memilikinya…..lalu siapa yang memilikinya. Kau menunggu.&lt;br /&gt;Dalam rentang waktu menunggu, kau mencoba menjadikan dirimu seperti apa yang kau tunggu. Seperti bunga matahari, seperti cakar harimau, seperti bintang, seperti bulan, bahkan seperti Percikan api yang akan membakar ilalang. Dan pada saat yang sama kau melawan dirimu, melawan egomu, melawan nafsumu, melawan semua hal yang tak produktif.&lt;br /&gt;(UNTUK TEMAN-TEMANKU YANG SELALU RESAH dan MASIH BERJUANG UNTUK RESAH….I LOV YU PULL)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7581121847635820599-6597174979160796678?l=maolien.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maolien.blogspot.com/feeds/6597174979160796678/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://maolien.blogspot.com/2009/09/menunggu-satu-kalimat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7581121847635820599/posts/default/6597174979160796678'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7581121847635820599/posts/default/6597174979160796678'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maolien.blogspot.com/2009/09/menunggu-satu-kalimat.html' title='MENUNGGU SATU KALIMAT'/><author><name>M@rlin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05373679264799152151</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_F0vhTOurt9I/SyUWy8LvY8I/AAAAAAAAADU/0mfNQ9sHIvQ/S220/Copy+of+Copy+of+Copy+of+102_1148.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7581121847635820599.post-2447872839611764145</id><published>2009-09-22T08:00:00.001-07:00</published><updated>2009-09-22T08:00:02.064-07:00</updated><title type='text'>DARI ISTRIMU</title><content type='html'>Kau melihatnya tergeletak jatuh tak berpenghuni. Kau meraih tangannya dan mengapitnya menuju singgasana. Menyelipkan bunga melati putih di rambutnya. Cahaya lampu-lampu, nokhtah-nokhtah tampak kian terang, kian jernih setelah tibamu di langit malam. Kau tak mempersoalkan lagi di mana jatuhnya, tak lagi peduli, tak merasa perlu. &lt;br /&gt;Malam, kau menatap cahaya terbentang, manatap kota menghampar di langit. Menatap indah, hampir surgawi. Tiba-tiba ia berbalik, menatapmu yang sedang diam-diam kau tatap. Tatapan yang lekat, sangat lekat. Seakan kau dan ia bertukar tempat. Mencocokkan rasa, mencocokkan keinginan. Kata-kata sembunyi dibalik isyarat tatapan, mengalir lembut seperti angin pengunungan.&lt;br /&gt;Pagi meninggalkan malam, kembali kata-kata sederhana mengalir berangkat dari hati. Kata-kata sisa semalam. Tak terhingga. Kata-kata itu merentang begitu jauh dalam dirimu. Berjatuhan seperti salju, mengagumi wujudmu kokoh dan bijak. Kau terpukau sedemikian rupa hingga kau perlu memeluknya lagi seperti seorang anak kecil.&lt;br /&gt;Sore hari yang hampir malam. Di depanmu, pohon sakura berdiri tegak. Sakura yang hampir berbunga. Sakura istrimu. Pemandangan itu menyenangkan hatimu, senang yang bertambah ketika kau mengajaknya memandang pantai lepas nun jauh di sana. Dalam hati kau bicara, semoga ini akan kekal tanpa kecewa. Terus-menerus, mengawali akhir, mengakhiri awal yang dinamai manusia sebagai cinta.&lt;br /&gt;Dalam perjalanan kekal, sebuah bulan menjelma banyak bulan, hampir seribu. Ia beranak pinang membentuk serdadu. Membentuk sayap yang siap membawa dirimu dan terbang kesurga. Tempat orang yang mengagumi cinta. Sampai tiba waktunya menutup mata, ketika kau bersatu dengan tanah bumi. Kembali. Tanda hidupmu tetap di atas tanah. Kesaksian, pemaknaanmu akan di jaga oleh sayap-sayap yang kau ciptakan.&lt;br /&gt;(UNTUK TEMAN-TEMANKU YANG TAK SEMPAT KUKUNJUNGI PERNIKAHANNYA)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7581121847635820599-2447872839611764145?l=maolien.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maolien.blogspot.com/feeds/2447872839611764145/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://maolien.blogspot.com/2009/09/dari-istrimu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7581121847635820599/posts/default/2447872839611764145'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7581121847635820599/posts/default/2447872839611764145'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maolien.blogspot.com/2009/09/dari-istrimu.html' title='DARI ISTRIMU'/><author><name>M@rlin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05373679264799152151</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_F0vhTOurt9I/SyUWy8LvY8I/AAAAAAAAADU/0mfNQ9sHIvQ/S220/Copy+of+Copy+of+Copy+of+102_1148.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7581121847635820599.post-7916408020811448949</id><published>2009-09-22T07:52:00.003-07:00</published><updated>2009-09-22T07:52:18.051-07:00</updated><title type='text'>DARI SUAMIMU</title><content type='html'>Awalnya kau berjalan menatap pagi sendiri. Lalu muncullah ia. Seraut wajah mengkisah dalam hidupmu. Dalam sebentang waktu yang panjang. Dalam harum biru. Tanpa akhir. Mengecup wajahmu yang tanpa rias, tanpa aksesoris, rambut jatuh hingga sebahu. Sekilas mimpi semalam terbayang. Mimpi yang kau ingat dengan jernih. Kau ungkapkan dalam bisik di senyummu. Ia mendekatkan telinganya, bukanlah sebenar telinga, tapi hati yang mencoba meresap semua kisahmu. Mengusap rambutmu, mengecupmu. Kecupan hening akan menenangkanmu ke pagi.&lt;br /&gt;Saat matahari mulai meninggi, kau berdiri di pintu yang membuka setengah. Memandangi pria penguasa semesta dirimu. Langkahnya menuju pertaruhan dengan keringat.  Teringat ucapannya sesaat lalu, yang manis dan meyakinkanmu bahwa ia akan kembali dengan senyum cerah. Kau membisu yang terbukungkus berbagai ragu. Dalam bisumu, kau mendengarkan suaranya menetralkan ragu, menjauhkan segala ketidakpastian dalam benakmu. Ketidakpastian yang kau tak tahu, hanya berharap ia juga merasa apa yang kau rasa. Kau tak lagi melihat akan ada duka ataukah bahagiah setelah semua ini, namun kembali ia meyakinkanmu dengan sihir manis, akan tinggal lama dalam dirimu.&lt;br /&gt;Dan sore mulai menjelang. Seorang pria datang dengan wajah mirip martil, selamanya martil, untuk kebahagiaanmu dan buah didalam rahimmu. Ia lalu duduk di kursi kesayangannya. Menyandarkan tubuh sementara mata menutup melepaskan lelah. Kau dekati dia dengan gelisahmu dan melantumkan suara lembut membasahi raganya yang terbakar pijar. Ia mulai membuka mata kembali. Memandangimu, refleksimu dalam retina matanya  serupa bidadari yang membawa bongkahan salju.&lt;br /&gt;Malam, setelah semuanya melantumkan Do’a pada pemilik kebahagiaan. Seorang lelaki mengusap jemarimu, mengamit lenganmu, mengajak kedalam relaksasi yang dalam. Dan semesta sunyi dalam rangkulan hening. Desir angin pun tiba-tiba tak terasa. Tak terasa dingin, tak terasa panas. Yang terasa hanyalah sebuah kesaksian cinta. Mengalir bisu, sebisu mata lelaki yang berisyarat. &lt;br /&gt;(UNTUK TEMAN-TEMANKU YANG TAK SEMPAT KUKUNJUNGI PERNIKAHANNYA)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7581121847635820599-7916408020811448949?l=maolien.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maolien.blogspot.com/feeds/7916408020811448949/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://maolien.blogspot.com/2009/09/dari-suamimu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7581121847635820599/posts/default/7916408020811448949'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7581121847635820599/posts/default/7916408020811448949'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maolien.blogspot.com/2009/09/dari-suamimu.html' title='DARI SUAMIMU'/><author><name>M@rlin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05373679264799152151</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_F0vhTOurt9I/SyUWy8LvY8I/AAAAAAAAADU/0mfNQ9sHIvQ/S220/Copy+of+Copy+of+Copy+of+102_1148.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7581121847635820599.post-2256534037789146726</id><published>2009-09-14T23:09:00.000-07:00</published><updated>2009-09-14T23:09:07.066-07:00</updated><title type='text'>Aku Salahkan Siapa</title><content type='html'>Aku bertanya&lt;br /&gt;Kambing hitam punya siapa&lt;br /&gt;Pagar halaman jadi rusak&lt;br /&gt;Aku salahkan siapa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bertanya&lt;br /&gt;Bangsa kita banyak harta&lt;br /&gt;Yang dijaga pencuri&lt;br /&gt;Aku salahkan siapa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bertanya&lt;br /&gt;Apakah kita sudah buat roket&lt;br /&gt;Malaysia sudah lama menunggu perang&lt;br /&gt;Aku jadi serba salah!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7581121847635820599-2256534037789146726?l=maolien.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maolien.blogspot.com/feeds/2256534037789146726/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://maolien.blogspot.com/2009/09/aku-salahkan-siapa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7581121847635820599/posts/default/2256534037789146726'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7581121847635820599/posts/default/2256534037789146726'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maolien.blogspot.com/2009/09/aku-salahkan-siapa.html' title='Aku Salahkan Siapa'/><author><name>M@rlin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05373679264799152151</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_F0vhTOurt9I/SyUWy8LvY8I/AAAAAAAAADU/0mfNQ9sHIvQ/S220/Copy+of+Copy+of+Copy+of+102_1148.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7581121847635820599.post-3160994784083612176</id><published>2009-09-10T00:42:00.001-07:00</published><updated>2009-09-10T00:42:19.131-07:00</updated><title type='text'>KEPAHLAWANAN</title><content type='html'>Pagi ini begitu sibuk. Masyarakat kota berjalan di trotoar dengan tujuan pagi yang sangat membebankan. Rupa-rupa air muka mereka tampakkan. Tergantung seragam yang mereka kenakan. Dasi yang begitu ketat tergantung dileher menunjukkan peluang dan hambatan dari tiap ujung keningnya. Seragam sekolah menunjukkan kepasrahan masa remaja dalam kekakuan gerak dan berimajinasi. Pakaian kumuh dan lusuh menunjukkan kekalahan hidup dan kepasrahan pada nasib. Masih banyak lagi rupa yang berjalan di trotoar itu. Trotoar depan rumah Pak Darmadi. Penguasaha muda di kota itu. Sebulan lalu dia memecat Boby. Penjaga rumahnya siang dan malam. Alasan kemalingan dan Boby gagal menghalangi niat para maling itu.&lt;br /&gt;Saat itu tepat jam 2:00 dini hari. Seorang yang berpotensi menjadi maling profesional masuk dengan memanjat tembok pagar setinggi dua meter. Boby dengan sigap melompat dan menerkamnya dengan kekuatan yang muncul dari tanggung jawabnya sebagai penjaga. Tapi dia tidak punya senjata. Dan akhirnya kalah hanya dengan satu kali tendangan keras dari maling itu tepat mengenai dadanya. Dia tertelungkup. Mengerang kesakitan dan tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain memandangi maling itu mengendap mendekati jendela rumah tanpa pengaman anti maling.&lt;br /&gt;Paginya, begitu rasa sakit didadanya yang belum pulih betul, dia menjadi sasaran kemarahan majikannya. Terusir tanpa ada penjelasan darinya akan usaha yang mempertaruhkan nyawanya semalam. Hanya menunduk. Sesekali menoleh kemajikannya dan sekeliling halaman yang tak begitu luas. Dia berjalan menghampiri pagar dan pergi. Sekali lagi, dia terusir.&lt;br /&gt;Pagi ini begitu sibuk. Berbagai merek dan model kendaraan lalu-lalang dijalan kota itu. Derunya begitu menenggelamkan pikiran-pikiran kreatif. Polusinya menyesakkan nafas. Bunyi klakson menandakan ketidaksabaran yang berlebihan dan kerakusan yang teramat sangat. Sesekali pengemudinya meneriaki dengan nuansa makian kepada pengemudi lainnya :&lt;br /&gt;“we….telaso, jalanko cepat!”&lt;br /&gt;Atau&lt;br /&gt;“hati-hatiko ces, pakai weserko!”&lt;br /&gt;Dan atau&lt;br /&gt;“tolona anne……!”&lt;br /&gt;Atau mungkin&lt;br /&gt;“mako mati?”&lt;br /&gt;Begitu ragam pagi ini kata-kata yang menunjukkan ketidaksabaran dari para pengemudi. Seragam makanan yang tersaji didepan hidung Betriks. Penjaga baru di rumah Pak Darmadi. Penjaga yang menggantikan tugas Boby siang dan malam. Baru dua minggu dia bertugas dan cukup meyakinkan Pak Darmadi dengan body yang lebih besar dan kekar dibandingkan Boby. Tentu akan menjadi pertimbangan bagi para maling untuk mencuri melihat body Betriks yang begitu besar kekar yang bisa menerkam tiga orang sekaligus meskipun belum teruji.&lt;br /&gt;Pagi ini begitu sibuk. Tapi tidak begitu sibuk bagi Pak Darmadi. Dia masih bermalas-malasan di tempat tidur. Sebagai pimpinan Perusahaan Topaz, dia tidak terlalu mengikat dirinya dengan waktu kantorannya. Lelahnya semalam belum pulih. Semalaman dia mendapat undangan dari Pak Sutomo, Direktur Bank Kapor, di Club Kembang Peluk. Aneka macam dia nikmati di club itu hingga lelahnya begitu berat. Di pertengahan malam dia pulang kerumahnya dengan kepala yang sudah miring kekiri dan kekanan. Baju dan celana yang kusut tidak beraturan seperti prajurit perang yang baru saja duel one to one. Dia mebuka pagar dan dilihatnya Betriks tetap terjaga, berdiri kokoh bak hulk hogan. Pak Darmadi tersenyum puas :&lt;br /&gt;“baguuus……, lanjutkan kerjamu!” sambil mengelus-elus pundak Betriks.&lt;br /&gt;Pagi ini begitu sibuk. Ceceran darah yang begitu banyak didepan rumah Pak Darmadi. Tidak ada yang tahu apakah ceceran darah itu adalah milik manusia atau binatang. Orang-orang yang lewat didepan rumah Pak Darmadi tidak begitu mempersoalkan. Mereka berjalan dengan berbagai macam dipikirannya. Sekali lagi sesuai dengan seragam yang dikenakannya. Begitu juga dengan seisi rumah Pak Darmadi. Tidak ada yang mempertanyakan kenapa ada darah di depan rumahnya.&lt;br /&gt;Ceceran darah itu kian lama kian meresap dan menyatu keras dengan aspal jalanan. Mengering oleh hembusan nafas knalpot kendaraan. Dipermukaannya penuh dengan debu jalanan. Terkadang terlindas ban kendaraan yang lalu lalang.&lt;br /&gt;Pagi ini begitu sibuk. Beberapa pejalan kaki terlihat menutup hidup dan mulutnya setelah sesempat mungkin menengok ke selokan sedalam 2 meter di depan rumah Pak Darmadi. Meludah beberapa kali, entah karena jijik atau kebiasaan. Ada apa di dalam selokan itu?&lt;br /&gt;Boby, yah… Boby yang terlentang penuh darah. Darahnya begitu banyak hingga menutupi seluruh bagian-bagian tubuhnya. Dia tidak bergerak sedikit pun. Mati. Sungguh mekanisme kematian yang sangat tragis. Didadanya terdapat 3 tusukan badik sehingga mengeluarkan darah yang begitu banyak. Mulutnya pun mengeluarkan darah. Tampaknya sebelum tusukan badik itu mendarat di dadanya, pukulan telak berkali-kali lebih dahulu mendarat didada dan mukanya.&lt;br /&gt;Pagi ini begitu sibuk. Tidak ada yang tahu cerita dini hari tadi. Penyebab kematian Boby didepan rumah Pak Darmadi. Kepahlawanannya telah mencegah niat para maling untuk mencuri. Maling yang sama yang telah membuatnya terusir dan kehilangan kepercayaan dari Pak Darmadi.&lt;br /&gt;Saat itu pukul 2:00 dini hari ketika maling yang sama sebulan lalu datang dengan kepercayaan diri yang begitu tinggi. Pengalaman sebulan yang lalu tidak membuatnya kuatir untuk mendapatkan hasil yang memuaskan. Dia tidak tahu kalau Boby sudah di pecat dari tugasnya sebagai penjaga. Kini dia harus berhadapan dengan penjaga yang berbadan lebih besar dan kekar dari Boby.&lt;br /&gt;Saat itu pukul 2:00 dini hari ketika Boby menyempatkan diri melintas didepan rumah Pak Darmadi. Dia melihat maling yang sama sebulan lalu mengintai dibalik pagar Pak Darmadi. Dengan rasa tanggungjawab yang masih tersisah sebagai penjaga dan keinginan untuk berbuat di sisa hidupnya, dia berlari sekencang mungkin menghampiri maling itu. Melompat dan menerkam dengan sekuat tenaga. Terjadi perkelahian yang begitu seru :&lt;br /&gt;“Biadab, mati kau” maling itu melancarkan tendangan bertubi-tubi kearah dada Boby. Boby terlempar dan tersandar di pagar. Tersungkur, meski merasakan sakit yang sangat hingga mengeluarkan darah di mulutnya, dia berusaha bangun dan kembali menerkam. Kembali terjadi perkelahian. Kali ini Boby berhasil menggigit tangan dan kakinya. Lukanya mengeluarkan darah yang banyak. Boby belum puas. Dia melompat dan berhasil mencakar muka maling itu. Maling itu mengerang kesakitan. Tapi dia mengeluarkan sebilah badik yang tersembunyi dari balik bajunya dan menusukkannya tepat di dada kiri Boby. Boby mengerang. Sakit tentu dan mengeluarkan darah. Mengalir begitu deras. Kembali dia tersungkur di jalan depan rumah Pak Darmadi. Didalam pikirannya hanyalah menang atau mati. Sebuah tekad yang begitu berani dalam hidup. Dengan tekadnya itu, dia kembali berdiri. Sempoyongan dan menerkam selanjutnya menggigit paha maling itu. Maling itu mengerang kesakitan. Juga mengeluarkan darah dan tersungkur. Kedua makhluk itu silih berganti menyerang hingga mereka bergulingan diatas aspal jalan yang sudah sepi. Begitu lama pergumulan itu hingga kemudia maling itu kembali meraih badiknya dan menusukkan sebanyak dua kali di dada Boby. Kini Boby benar-benar tidak bisa berkutik lagi. Darahnya semakin banyak. Kembali tersungkur dan tidak bisa bangun kembali. Matanya menatap tajam kearah maling itu seolah-olah dia ingin mengatakan “Akulah pemenang, karena kau tidak adil. Kau memakai badik. Sungguh manusia tidak pernah adil”. Itulah kata terakhir dari Boby sebelum dia gugur sebagai pahlawan. Maling itu berdiri tertatih dengan luka yang banyak di sekujur tubuhnya. Susah payah dia berdiri dan mengangkat tubuh Boby dan membuangnya ke selokan. Setelah itu, maling itu berdiri sejenak menatap lama rumah Pak Darmadi. Lalu berjalan, pergi. Dia mengurungkan niatnya malam itu untuk mencuri. Lukanya begitu banyak dan sekujur tubuhnya penuh dengan darah sehabis perkelahian sengit dengan Boby yang berakhir dengan kematian Boby.&lt;br /&gt;Pagi ini begitu sibuk. Ternyata Betriks baru bangun dari tidurnya. Dia luput dari kejadian dini hari tadi. Kejadian yang hampir mengancam karirnya sebagai penjaga rumah Pak Darmadi. Bobylah yang telah menyelamatkan karir dan nyawanya dengan mengorbankan hidupnya.&lt;br /&gt;Pagi ini benar-benar begitu sibuk hingga lupa memberi penghargaan terhadap Boby, sang pahlawan. Tubuhnya tetap terlentang di selokan. Bercampur kotoran dan sampah manusia. Tubuhnya penuh darah, dan mulutnya menganga seolah-olah dia ingin mengatakan :&lt;br /&gt;“Dalam sejarah, yang aku temukan adalah kemengan tanpa penghargaan”&lt;br /&gt;Pagi ini begitu sibuk. Boby hanyalah binatang sejenis Anjing. Tapi dia adalah pahlawan. Tuhan sangat memuja kepahlawanan. Dan aku begitu ingin menjadi seperti Boby. Seperti anjing penjaga. Tidak perlu berbagai macam seragam untuk menjaga negara ini. Tidak perlu senjata ataupun undang-undang yang begitu rumit. Cukup cakar dan gigi taring untuk menyerang musuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makassar, Maret 2007&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7581121847635820599-3160994784083612176?l=maolien.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maolien.blogspot.com/feeds/3160994784083612176/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://maolien.blogspot.com/2009/09/kepahlawanan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7581121847635820599/posts/default/3160994784083612176'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7581121847635820599/posts/default/3160994784083612176'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maolien.blogspot.com/2009/09/kepahlawanan.html' title='KEPAHLAWANAN'/><author><name>M@rlin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05373679264799152151</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_F0vhTOurt9I/SyUWy8LvY8I/AAAAAAAAADU/0mfNQ9sHIvQ/S220/Copy+of+Copy+of+Copy+of+102_1148.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7581121847635820599.post-8209216609743819284</id><published>2009-09-09T09:10:00.001-07:00</published><updated>2009-09-09T10:24:46.607-07:00</updated><title type='text'>MUHASABAH (Emha Inspiration)</title><content type='html'>Kalau memang yang engkau pilih bukan kearifan untuk berbagi&lt;br /&gt;melainkan nafsu untuk menang sendiri&lt;br /&gt;maka terimalah kehancuran bagi yang kalah&lt;br /&gt;dan terimalah kehinaan bagi yang menang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau memang yang mengendalikan langkahmu&lt;br /&gt;hanyalah rasa senang dan tidak senang kepada ini atau tidak senang kepada itu&lt;br /&gt;dan bukan pandangan yang jujur terhadap kebenaran&lt;br /&gt;maka segera gusur dan buanglah mereka yang engkau benci&lt;br /&gt;serta bersiaplah engkau sendiri akan memasuki jurang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau memang yang bisa engkau pahami hanyalah kemauanmu,&lt;br /&gt;kepentingan dan nafsumu sendiri, dan bukan kerendahan hati untuk merundingkan&lt;br /&gt;titik temu kebersamaan&lt;br /&gt;maka siapkan kekebalan dari benturan-benturan dan luka,&lt;br /&gt;untuk kemudian orang lain telah pula bersiap menggali tanah untuk kuburmu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7581121847635820599-8209216609743819284?l=maolien.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maolien.blogspot.com/feeds/8209216609743819284/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://maolien.blogspot.com/2009/09/muhasabah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7581121847635820599/posts/default/8209216609743819284'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7581121847635820599/posts/default/8209216609743819284'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maolien.blogspot.com/2009/09/muhasabah.html' title='MUHASABAH (Emha Inspiration)'/><author><name>M@rlin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05373679264799152151</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_F0vhTOurt9I/SyUWy8LvY8I/AAAAAAAAADU/0mfNQ9sHIvQ/S220/Copy+of+Copy+of+Copy+of+102_1148.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7581121847635820599.post-6561321540793423670</id><published>2009-09-09T08:40:00.000-07:00</published><updated>2009-09-09T08:45:16.153-07:00</updated><title type='text'>Tentang Malaysia</title><content type='html'>Hubungan Indonesia dengan Malaysia selalu saja bernuansa Love and Hate. Di mulai ketika Bung Karno berpidato di acara Maulid mengecam aksi tidak beretika demonstran Malaysia yang merobek-robek bendera Merah Putih dan menginjak-injak burung Garuda, lambang Negara kita.  Sampai sekarang ini, Indonesia selalu mengalah dari saudara mudanya itu. Dan sebagai saudara yang lebih tua, Indonesia mau-mau saja di mainkan dan di olok-olok oleh adiknya. Kaciaaaan…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negara kecil seluas kurang lebih 330,000 km dengan jumlah penduduk sekitar 23 juta jiwa itu selalu tidak puas dengan kekerdilannya. Satu persatu wilayah Indonesia di klaim miliknya, sayangnya reaksi Indonesia sangat lamban dan hanya bisa marah-marah. Dimulai dari klaim Malaysia terhadap wilayah Kalimantan Barat sebagai bagian federasi Malaysia. Padahal dalam Manila Accord antara Tungku Abdul Rahman dari Malaysia, Presiden Macapagal dari Philipina dan Bung Karno, disepakati bahwa status daerah Kalimantan Utara akan dibicarakan lebih lanjut melalui referendum rakyatnya. Namun kelicikan Malaysia secara fait accompli pada tanggal 29 Agustus 1964 Tungku Abdul Rahman dan Inggris mengumumkan penggabungan Kalimantan Utara sebagai bagian dari federasi Malaysia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai kepala Negara, Bung Karno tentu saja marah, dan sejarah selanjutnya mencatat Sejarah mencatat politik konfrontasi terhadap Malaysia telah menimbulkan korban jiwa yang tak sedikit. Ribuan sukarelawan disusupkan lewat laut dan udara melalui Johor, Singapura, Sabah dan Sarawak. Pasukan Marinir, maupun reguler bertempur di hutan hutan Kalimantan dengan pasukan gurkha dan tentara Inggris, sebagai perang yang tak pernah diumumkan antara Inggris dan Indonesia. Perang selama 3 tahun yang karena sifat kerahasiaan dan tidak hadirnya wartawan dalam pertempuran, menyebabkan tidak banyak orang luar memahami, betapa dahsyat pertempuran yang terjadi. ( Thomas Geraghty, Who dares wins, the story SAS 1950 -1980 )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah orde lama tumbang, kedua negara itu memulai hubungan baru. Indonesia-Malaysia bekerja sama dalam bidang pendidikan. Tahun 70-an Indonesia mengirim dosen, guru untuk membangun infrastruktur pendidikan di Malaysia yang saat itu baru memiliki satu universitas. Buku wajib belajar mereka adalah karya sastrawan dari Indonesia. Bahkan juga mengirim ke sekolah film di IKJ, serta menjiplak UU Perfilman Nasional kita. Di dunia film, banyak orang film Malaysia yang mencari nafkah di Indonesia dan kita sekarang yang belajar film dengan mereka. Sekarang si saudara muda sudah menuai hasilnya, membuat mereka maju sebagai bangsa yang mandiri sehingga melahirkan perubahan pola pikir. Generasi baru Malaysia sekarang hanya melihat Indonesia sebagi pengekspor pembantu, buruh, TKI serta biang kerok kebakaran hutan saja. Ini membuat secara mental mereka lebih superior dan menjadi dengan gampangnya menyepelekan hubungan ras serumpun antar bangsa ini. Berbagai peristiwa lain yang mengusik  rasa kebangsaan kita antara lain: Pencaplokan pulau Sipadan – Ligitan, kasus Ambalat, TKI yang dianiaya dan diperkosa wasit karate kita yang di gebukin, istri diplomat yang ditahan , batik yang dipatenkan oleh mereka, sampai terakhir pemakaian lagu rasa Sayange dan tari Pendet hanya menjadi excuse dari sebuah bangsa yang merasa besar dengan huruf b kecil itu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7581121847635820599-6561321540793423670?l=maolien.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maolien.blogspot.com/feeds/6561321540793423670/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://maolien.blogspot.com/2009/09/tentang-malaysia.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7581121847635820599/posts/default/6561321540793423670'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7581121847635820599/posts/default/6561321540793423670'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maolien.blogspot.com/2009/09/tentang-malaysia.html' title='Tentang Malaysia'/><author><name>M@rlin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05373679264799152151</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_F0vhTOurt9I/SyUWy8LvY8I/AAAAAAAAADU/0mfNQ9sHIvQ/S220/Copy+of+Copy+of+Copy+of+102_1148.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7581121847635820599.post-7837612564262797264</id><published>2009-09-05T09:38:00.000-07:00</published><updated>2009-09-05T09:39:43.888-07:00</updated><title type='text'>Batu Gunung Kecil</title><content type='html'>Aku mendapat kiriman tautan facebook berjudul "ogah nikah" dari seorang teman, Ismail Amin. Tautan itu bercerita pergulatan seseorang ketika menghadapi pertanyaan-pertanyaan tentang menikah. Aku terharu sekaligus bingung, menapa kesendirian dianggap tidak terlalu istimewah dalam kehidupan sosial?.Apakah makna kelengkapan hidup itu?. Aku kembali terinspirasi.Dalam cerpen singkatku ini, aku ingin mengajak siapapun untuk merenungi kesendirian itu. &lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;     *** &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kuucapkan selamat pagi pada seluruh tubuhku. Pada kelopak mata yang tak henti memihak pada keanggunan. Pada mulut, tak henti memuji ciptaan sempurna. Pada hati, selalu menyimpan sejuta puisi -untuk dinyanyikan saat bersama, atau saat bernaung di bawah pohon pinus. &lt;br /&gt; Aku selalu berada dalam pagi yang cerah, kalaupun terselip wajah muram, aku selalu mencari celah cerah. Banyak cara, namun cuma ada satu cara ampuh. Cara ampuh, kuawali dengan pertanyaan "Akan berperan apa aku hari ini? Seorang Gurukah, temankah, ataukah sebongkah batu -duduk termenung menikmati hembusan nafas sendiri?" &lt;br /&gt; Pagi ini, aku memilih menjadi sebongkah batu. Batu gunung kecil yang kebetulan terbawa deras arus sungai hingga ke sebuah padang pasir. Aku menjadi orang aneh di padang pasir itu, dengan bentuk yang tak terbentuk. Bukan bulat, apalagi persegi empat. Bentukku aku rasakan sendiri, "sebuah kebebasan dipersepsi". &lt;br /&gt; Pagi ini, aku tidak mengurutkan agenda-agenda seperti biasanya. Sesuai dan sepenuh isi agenda. Tak menyisakan ruang kosong untuk kejutan atau agenda tersembunyi. Hari ini aku sudah memutuskan untuk berperan menjadi batu gunung kecil. Duduk termenung dengan corat-coret imaji-imaji menjelma kata-kata. Mungkin sebagian orang melihatku seperti orang yang menemukan pagi yang tak sempurna. Sebagian lagi mungkin melihatku berada dalam jeruji-jeruji duka lara. Namun, aku dalam detik, dalam menit dan dalam jam, kaleidoskop imaji-imaji yang bergerak maju-mundur, melintas dalam kepingan kebebasan, berkata ; ini hanyalah sebuah tempat singgah, tapi menyimpan banyak kata. Hampir tak ada kata sunyi di setiap kata. Percakapan, tawa renyah, jalanan macet, semua kurasakan di tengah padang pasir. Tamu-tamu bertemu, berjabat tangan diikuti anggukan, senyuman, bertukar kartu nama, nomor ponsel, pesta tahunan, melepas senja, cengkrama gadis, hingga ketenangan setelah senggama di malam bulan madu. Semua melebur dingin diantara fatamorgana padang pasir. &lt;br /&gt; Pagi ini. aku hanyalah batu gunung kecil di padang pasir. Menunduk dan menjatuhkan suara begitu saja, lepas ke udara dan tak kuniatkan. Sebuah sapa, sebuah tanya terhenti begitu saja ketika sebuah gema datang dari terik matahari dan bertanya; apakah kamu sedang menatap dinding merah jambu, kini warnanya putih mengkilau. Apakah kamu ingin kembali mencat sebuah kamar dan menjadikannya sebagai kamar yang paling berkepribadian diantara kamar-kamar yang lain?. Aku tak menjawab dengan gema, hanya bergumam: Aku tak memiliki paku untuk kutancapkan pada setiap sisi dinding, untuk memajang lukisan cat air, foto, gambar, hiasan, dan menyemarakkan jejak dan tanda tentang diriku. Pagi ini aku hanya batu gunung kecil di padang pasir, duduk termenung sambil menatap dinding kuning muda seperti nenas seperti mentega seperti bunga matahari. Namun tak ada sesal dalam hati bahwa aku akan sering datang menghuni kamar ini. &lt;br /&gt; Gema lain datang dari arah belakangku, menepuk pundakku dan bertanya: kudengar kau akan menikah?. Sahutku: yah, kudengar juga begitu, tapi itu cuma anjuran &lt;br /&gt;"Kau terhakimi oleh anjuran itu?" &lt;br /&gt;"Mungkin kau tahu apa rasanya, ketika dirimu bertulisan ramah sedang kaki-kaki sepatu mengijakmu. Kau tetap tergeletak seperti mati rasa, padahal kau tahu hak-hak sepatu runcing bisa melubangi badanmu, sol-sol sepatu bisa mengulekmu seperti sambal. Apakah kamu bisa bertahan dengan senyum dan lengan mengembang, bertahan dan terus bertahan seperti seorang petapa, seperti bangau yang mengangkat satu kaki di danau?" &lt;br /&gt;"Kau terlalu tegak sendiri" bisiknya menjauh. "berkabut sendiri, berlindung dalam kaca-kaca dingin. Mengapa?" &lt;br /&gt;"kau tak mengerti, ini hanya sementara. Hari ini aku ingin menikmati padang pasir. Menikmati kesendirian. Tak pernah membenak untuk menunda menikah, apalagi menolaknya. Kelak, ketika aku lupa, semua akan mengingatkanku lagi dan lagi. Suatu saat, aku berlari kencang diatas aspal. Meninggalkan pepohonan kota, jalan panjang yang diam. Kau tahu, kemana kakiku akan berlari? kedepan, hanya kedepan. Aku tidak mau lagi menatap nanar ke belakang. Tetumbuhan tak lagi tegak, ranting dedaunan patah-patah dan bunga-bunga koyak berserakan". &lt;br /&gt;"berhentilah kau bermimpi saat kau masih menjadi batu gunung kecil seperti ini" &lt;br /&gt;"mimpiku menjadi sebuah kemestian, tak terelakkan. Berkah ataukah kutukan, aku tak tahu. Tapi adalah ketaktahuan yang membuatku berlari, ketaktahuan yang menjadikan hidupku dan segala sesuatu datang manis mengejutkan, mendamaikanku dengan apapun. Dan hanya ketaktahuan yang menjadikan segala sesuatu taruhanku untuk sesuatu, meski aku tak tahu apa itu. Kelak, ketika aku bangun di sebuah pagi sempurna, dengan senyum merekah ikhlas. Aku tidak akan betah dengan hari-hari lama. Aku pergi, membawa pedang bunga. Menuju cakrawala. Disana, baru aku akan menegerti semua makna mimpiku". &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;                                                             *** &lt;br /&gt; Dan pagi sudah hampir menapak senja, tak terasa angin membawanya jauh di kegelapan malam kemudian pagi kembali datang dengan membawa sederet pilihan. Sesaat khawatir, bagaimana jika ternyata semua ini hanyalah antisipasi yang berkepanjangan, tanpa akhir. Aku bahkan tak tahu sedang mengharapkan apa dari pilihan-pilihan itu. &lt;br /&gt;      &lt;br /&gt;Makassar, 5 Sep 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7581121847635820599-7837612564262797264?l=maolien.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maolien.blogspot.com/feeds/7837612564262797264/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://maolien.blogspot.com/2009/09/batu-gunung-kecil.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7581121847635820599/posts/default/7837612564262797264'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7581121847635820599/posts/default/7837612564262797264'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maolien.blogspot.com/2009/09/batu-gunung-kecil.html' title='Batu Gunung Kecil'/><author><name>M@rlin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05373679264799152151</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_F0vhTOurt9I/SyUWy8LvY8I/AAAAAAAAADU/0mfNQ9sHIvQ/S220/Copy+of+Copy+of+Copy+of+102_1148.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7581121847635820599.post-463303619902749572</id><published>2009-09-05T09:17:00.000-07:00</published><updated>2009-09-05T09:19:47.797-07:00</updated><title type='text'>Ibu Seorang</title><content type='html'>Suatu saat diatas tikar.&lt;br /&gt;Kau terbangun oleh rasa sakit di perutmu.&lt;br /&gt;Kau meraba perutmu, seperti ada yang akan jatuh dalam dirimu.&lt;br /&gt;Kau menjeritkan sebuah kata mirip maut.&lt;br /&gt;Disampingmu seorang pria cemas.&lt;br /&gt;Kau cengkram tangannya kuat. Dia menatap matamu yang membesar.&lt;br /&gt;Menatapmu dengan mata hitamnya lembut, begitu lembut.&lt;br /&gt;Kau menelan matanya ke dalam dirimu. Menenangkanmu.&lt;br /&gt;Dan kau rasakan ada yang keluar jatuh dari rahimmu. Sakitmu memupus.&lt;br /&gt;Lalu hening hilang oleh pecah tangis bayi.&lt;br /&gt;Kau melepas nafas diantara senyum merekah.&lt;br /&gt;Kau memejamkan mata diantara mata terbuka binar.&lt;br /&gt;Kau menggigit bibir diantara dera kebahagiaan.&lt;br /&gt;Hampir sekarat yang tak pernah dimengerti lelaki.&lt;br /&gt;Belum berakhir....&lt;br /&gt;Bayi itu berhenti menangis saat dekatmu.&lt;br /&gt;Kau dekatkan dadamu di kepalanya.&lt;br /&gt;Kau kecup wewangian tubuhnya.&lt;br /&gt;Wangi manis, wangi begitu baru, wangi berasal dari tubuhmu.&lt;br /&gt;Kau senandungkan lagu. Mengantarnya ke malam.&lt;br /&gt;Matanya perlahan mengatup.&lt;br /&gt;Gerak bibirnya perlahan mengendurkan hisap puting susumu.&lt;br /&gt;Kau berbisik: Kelak ketika engkau sudah besar, akan kuserahkan pada dunia. Ketika engkau kenal bahasa, ucapkan keindahan. Dunia diluar sini adalah hutan. Banyak jalan, jebakan maut. Ketika kau sendirian, terjebak dalam hutan, tanpa remah-remah roti petunjuk jalan. Lewati semua sengkarut dengan sabar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         Makassar, 3 Sep 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7581121847635820599-463303619902749572?l=maolien.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maolien.blogspot.com/feeds/463303619902749572/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://maolien.blogspot.com/2009/09/ibu-seorang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7581121847635820599/posts/default/463303619902749572'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7581121847635820599/posts/default/463303619902749572'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maolien.blogspot.com/2009/09/ibu-seorang.html' title='Ibu Seorang'/><author><name>M@rlin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05373679264799152151</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_F0vhTOurt9I/SyUWy8LvY8I/AAAAAAAAADU/0mfNQ9sHIvQ/S220/Copy+of+Copy+of+Copy+of+102_1148.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7581121847635820599.post-4823733007950603414</id><published>2009-08-30T08:28:00.000-07:00</published><updated>2009-08-30T08:34:16.575-07:00</updated><title type='text'>EMHA harus MAKSHUM</title><content type='html'>Mengapa dalam masyarakat kita masih saja ada semacam "pemaksaan kehendak" agar misalnya Cak Nun kok begitu, kok nggak kelihatan utuh, sih. Simbol yang dipakai Cak Nun kok tidak utuh, sih? Mbok kalau mau radikal, pakai sorban sekalian. Intinya masyarakat menuntut Cak Nun benar-benar sempurna, makshum.&lt;br /&gt;Intinya, mereka mengkonsep saya seperti Nabi, seperti malaikat. Saya tolak habis-habisan, saya tolak mentah-mentah. Saya manusia biasa seperti Anda. Kriteria hukum untuk saya dan untuk Anda sama. Kalian ingin saya makshum? Nggak bisa dong. Nggak ada manusia makshum. Seenaknya sendiri. Mereka cari kesalahan saja pada saya. Hanya cari-cari kesalahan. Saya biasa-biasa saja. Nggak ada yang makshum. &lt;br /&gt;Kiai makshum saja nggak makshum, kok. Yang hanya makshum hanya Rasulullah. Kriteria untuk manusia biasa kok kriteria untuk malaikat yang dipakai. Tidak bisa dan ndak mau saya. terus bagaimana. Pakai sorban? Kalau saya pakai sorban, saya ngerti omongan kalian, "Ah, sok!" kalian tidak mencari kebenaran, kok. Kalian ingin mencaci, ingin sinisme. Sama dengan Via, "Lho kok ndak pakai jilbab? Istrinya Cak Nun kok ndak pakai jilbab?" nanti kalau Via pakai jilbab, "Mentang-mentang istrinya Cak Nun pakai jilbab!" Terus maunya bagaimana? Intinya, dari seluruh masalah ini, kita ini seperti ikan dalam kolam. Yang bertengkar di dalam kolam, dan kita tidak punya perspektif mengenai berapa luas mengenai berapa luas koran itu? &lt;br /&gt;Jadi, sesungguhnya yang kita permasalahkan sekarang adalah, reformasi keseluruhan. Itu semua pertengakaran karena sistem nilainya sudah nggak bener. Cara kita melihat persoalan itu nggak bener. Cara kita melihat Pak Harto nggak bener. Cara kita melihat Orde Baru ndak bener, cara melihat Pak Karno ndak bener. Tinggal Anda pilih, mau mengubah sistem nilai menjadi seistem nilai sekular yang sempuran atau mengubah diri ke sistem nilai Islam? Saya hanya berani memilih sistem nilai Islam. Misalnya kasus Pak Harto turun. Konsepnya yang kita tawarkan bersama Cak Nur adalah husnul khatimah. Kita harus menghormati orang yang mau berhusnul khatimah. Menghormatinya antara lain dengan kewajiban menghukum kesalahan-kesalahannya. Sebagaimana syarat tobat dari Allah itu sangat berat. &lt;br /&gt;Sama dengan Allah menciptakan neraka, konsep husnul khatimah ini yang oleh Cak Nur tidak diperjuangkan lebih lanjut, sebab sistem nilai masyarakat -dalam kasus Pak Harto turun itu-mejadi tidak benar. Misalnya kita ambil kasus lengser keprabon. Lengser keprabon juga tidak akan terjadi kalau tidak madeg pandito terlebih dulu. Orang yang sudah madeg pandito adalah orang yang sudah merdeka dari dunia. Dia sodah kosong, dia sudah manut sama Allah, cuma spiritualitas yahg menadi eksistensi dia, maka dia mau lengser. Lengser keprabon yang tanpa madeg pandito lengser keprabonnya harus melalui kudeta seperti Ken Arok, seperti raja-rja yang lain. &lt;br /&gt;Sistem nilai yang saya maksud di atas itu kan tidk dipakai dalam pembicaraan-pembicaraan di kampus-kampus. Ngomong-ngomongnya lengser keprabon thok. Jadi sistem nilai kita ini ndak karu-karuan. Islam itu sistemnya jelas. Bahwa saya tidak boleh membenci orang hanya karena saya tidaki setuju dengan dia, bakkan saya tidak benci orang yang menyakiti saya, bahkan saya tetap wajib menyelamatkan dia dari api neraka. Itu Islam. Karena nggak ada perubahan sistem nilai, ya tetap saja ndak karu-karuan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7581121847635820599-4823733007950603414?l=maolien.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maolien.blogspot.com/feeds/4823733007950603414/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://maolien.blogspot.com/2009/08/emha-harus-makshum.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7581121847635820599/posts/default/4823733007950603414'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7581121847635820599/posts/default/4823733007950603414'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maolien.blogspot.com/2009/08/emha-harus-makshum.html' title='EMHA harus MAKSHUM'/><author><name>M@rlin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05373679264799152151</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_F0vhTOurt9I/SyUWy8LvY8I/AAAAAAAAADU/0mfNQ9sHIvQ/S220/Copy+of+Copy+of+Copy+of+102_1148.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7581121847635820599.post-4814557897176655272</id><published>2009-08-29T08:46:00.000-07:00</published><updated>2009-08-29T08:49:26.710-07:00</updated><title type='text'>TRUE LOVE</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_F0vhTOurt9I/SplN9kz9HLI/AAAAAAAAAAk/UXJeiE0SZTw/s1600-h/How_Much_I_Hate_You.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_F0vhTOurt9I/SplN9kz9HLI/AAAAAAAAAAk/UXJeiE0SZTw/s200/How_Much_I_Hate_You.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5375413350492347570" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Banyak orang tidak mengerti tentang kedalaman makna cinta sesungguhnya (true love). True love adalah sebuah komitmen kuat untuk tetap survive dan saling menghidupkan terhadap pasangan. True love bukanlah aksi pertunjukan seorang laki-laki untuk mendapatkan hati pasangannya, tapi sebuah usaha menyatukan kebenaran, loyalitas, keamanan, saling ketergantungan, cinta, emosi, mimpi, harapan, dan komitmen. Namun ini tak bisa dipungkiri bahwa ini sulit untuk dilakukan.&lt;br /&gt;Dalam artikel True Love (Hello Magazine, February 2009) membuat sebuah kesimpulan tentang kapasitas diri untuk mencinta:&lt;br /&gt;1. Be ready to pay up&lt;br /&gt;Keiginan untuk memberi sesuatu untuk mendapatkan sesuatu. Akan lebih baik jika pemberi ikhlas tanpa mengharapkan imbalan.&lt;br /&gt;2. Be team player&lt;br /&gt;Keinginan untuk mengalahkan individu demi tujuan yang lebih besar, so as to be an axcellent team player.&lt;br /&gt;3. Be strong&lt;br /&gt;Kekuatan untuk menerima kebenaran dan segala konsekuensinya. Don’t blame your partner and others for the consequences. Jika hubunganmu mengalami keretakan atau melemah karena alas an tertentu, cobalah terima kenyataan dan rencanakan untuk tetap bertahan dan cobalah memperbaikinya lagi.&lt;br /&gt;4. Be lovable&lt;br /&gt;Keinginan untuk melakukan penyesuaian diri dengan yang lain. Itu tidak bisa disangkal. Lihatlah kebahagiaan pasangan kamu sebelum melihat segala sesuatu dari dirimu. Lebih mengkhawatirkan pasanganmu dari dirimu sendiri.&lt;br /&gt;5. Be trustworthy&lt;br /&gt;Jika kamu dikekang oleh banyak hal, janganlah melihat kebelakang terhadap hal-hal yang membuatmu tidak percaya.&lt;br /&gt;6. Be ready to learn&lt;br /&gt;Setiap saat, belajarlah sesuatu yang baru tentang hidup dan cinta. Akrabkan dirimu dengan pengetahuan yang baru. Ini akan menjadi nilai tambah apalagi jika mampu menyeimbangkan antara pengetahuan dan kabijaksanaan.&lt;br /&gt;7. Be patient&lt;br /&gt;Jika ada pendapat “hidup adalah perburuan untuk mendapatkan cinta” jangan percaya karena itu tidak akan menolongmu.&lt;br /&gt;8. Be ready to expect and unexpected&lt;br /&gt;Hidup dan cinta ibaratkan sisi mata uang yang selalu silih berganti yang menuntun kita untuk mendapatkan sesuatu yang baru dan baru tentang diri kita, hidup, kebenaran, dunia, alam, cinta dan kesempurnaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang tidak termasuk dalam kapasitas diri untuk mencinta adalah:&lt;br /&gt;1. Kecantikan fisik&lt;br /&gt;2. Latar belakang social, kebangsaan, agama, dan adat istiadat.&lt;br /&gt;3. Sensuality.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                                          (Makassar, 29 Agustus 2009)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7581121847635820599-4814557897176655272?l=maolien.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maolien.blogspot.com/feeds/4814557897176655272/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://maolien.blogspot.com/2009/08/true-love.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7581121847635820599/posts/default/4814557897176655272'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7581121847635820599/posts/default/4814557897176655272'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maolien.blogspot.com/2009/08/true-love.html' title='TRUE LOVE'/><author><name>M@rlin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05373679264799152151</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_F0vhTOurt9I/SyUWy8LvY8I/AAAAAAAAADU/0mfNQ9sHIvQ/S220/Copy+of+Copy+of+Copy+of+102_1148.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_F0vhTOurt9I/SplN9kz9HLI/AAAAAAAAAAk/UXJeiE0SZTw/s72-c/How_Much_I_Hate_You.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7581121847635820599.post-8859438959801575722</id><published>2009-08-29T08:41:00.000-07:00</published><updated>2009-08-29T08:45:04.320-07:00</updated><title type='text'>ZERO</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_F0vhTOurt9I/SplM7lmUZrI/AAAAAAAAAAc/EVk2N1VR2to/s1600-h/CAGT2FS9.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 143px; height: 143px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_F0vhTOurt9I/SplM7lmUZrI/AAAAAAAAAAc/EVk2N1VR2to/s200/CAGT2FS9.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5375412216832222898" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Aku selalu ingin bertanggung jawab pada setiap garis pinggiran kertas. 4-4-3-3. Aku ingin merasakan betapa keterbatasan selalu membungkus badan, wajah, serta nalar kita.  satu cara untuk mengelabui keterbatasan itu, aku hiasi disetiap sudutnya dedaunan hijau dan menyelipkan bunga berwarna-warni di setiap ujung pangkalnya. dan disetiap garis lintangnya, kulukis burung-burung nan tampak hidup. &lt;br /&gt;“hari ini, aku ingin mulai menulis lagi” kurangkap beberapa kertas menumpuk kebawah. cukuplah 4. atau ketika tujuan sudah mendahului ide, lembaran terakhir kukosongkan saja. sudah tersedia pena dengan mata halus memandang.&lt;br /&gt;tapi aku lama terdiam.&lt;br /&gt;sudah lama tidak menuangkan cerita kedalam kertas. otak terasa berkarat untuk mencari ide. padahal setiap lirikan adalah ide. setiap langkah adalah ide. dan setiap hembusan nafas adalah ide. &lt;br /&gt;lalu, kenapa aku terdiam?&lt;br /&gt;pena dalam genggaman mulai merayu. “jangan terlalu sibuk dengan kehidupan terdahulumu. yang kau pikirkan hari ini mestinya akan terjadi di kehidupanmu kelak. apa didalam benakmu sekarang, hai penghayal”&lt;br /&gt;“kebahagiaan!”&lt;br /&gt;“kebahagiaan apa? kau rasakan dari mana kebahagiaan itu? dari materi? dari cinta? ataukah dari umurmu yang hampir setengah umur Nabimu?”&lt;br /&gt;“aku ingin merangkai ketiganya dalam satu kisah”&lt;br /&gt;“kau mulai dari mana?”&lt;br /&gt;“dari cinta, kulanjut umur, kuakhiri dalam materi”&lt;br /&gt;“jangan…..aku tak akan sanggup menampung air matamu” lembaran pertama berkata setengah memohon.&lt;br /&gt;“aku tidak ingin kau torehkan angka dalam benakku” lembaran kedua menolak.&lt;br /&gt;“aku pun geli ketika kau mulai menghitung materimu” lembaran ketiga menolak dengan senyuman.&lt;br /&gt;“bagaimana jika kumulai dari umur, dan kuceritakan sedikit materi,  lalu cinta menyimpulkannya?”&lt;br /&gt;“aku adalah awal. setiap awal tak pernah mengungkapkan penyesalan. aku bisa menebak, kau begitu menyesal dengan umurmu kini” lembaran pertama kembali menolak.&lt;br /&gt;“kutawarkan materi sebagai awal”&lt;br /&gt;“setiap langkahmu adalah kefakiran, sastra kuno telah menuangkannya sejak lama diawal kisah. aku ingin sesuatu yang baru darimu”&lt;br /&gt;kulirik lembaran kedua. dia membung muka. kualihkan pandangan ke lembaran ketiga. dia menunduk lalu menggelangkan kepala. sisanya lembaran keempat. &lt;br /&gt;“bagaimana dengan kau”&lt;br /&gt;“aku tak cukup menampung ketiganya. aku pun tidak ingin mengungkap tema dengan kata akhir bersambung”&lt;br /&gt;Aku berdiri lalu berjalan mendekati jendela. angin dini hari menyapa dingin. sesekali hembusannya merangkul erat. ada kerinduan yang dalam dari rangkulannya. sesekali pula sedikit menampar wajahku. ada kebencian yang sangat dalam hatinya.&lt;br /&gt;“apa kabarmu?” kusapa saat dia merangkul&lt;br /&gt;“aku sangat baik dan bahagia” kemudian dia menampar. “kutawarkan satu ide untukmu”&lt;br /&gt;“apa itu?”&lt;br /&gt;“ZERO. kekosongan. ketiadaan”&lt;br /&gt;“apa maknanya?”&lt;br /&gt;“sebenarnya kau tidak memiliki. kau termiliki”&lt;br /&gt;“apa yang memilikiku?”&lt;br /&gt;“yang membuatmu merasa termiliki. perasaanmu hanyalah kesementaraan dan akan menjelma menjadi ketiadaan. jika kau betah dengan perasaanmu, kau menjadi termiliki oleh perasaanmu”&lt;br /&gt;“aku belum paham maksudmu”&lt;br /&gt;“kudengar kau memilih tema kebahagiaan. kebahagiaanmu adalah cintamu kini, materimu kini, dan umurmu kini. kau merasa miliki mereka. tapi aku yakin, mereka telah memilikimu tanpa kau sadari” &lt;br /&gt;khotbahnya membuatku pucat. kututup jendela serapat mungkin dan berharap dia tidak datang lagi dalam hidupku. aku kembali menemui pena dan beberapa lembar kertas. kupandangi wajah mereka satu persatu. Nampak pucak.&lt;br /&gt;“kalian mendengar pembicaraanku dengan angin?”&lt;br /&gt;“iya” seru mereka hampir bersamaan.&lt;br /&gt;“kenapa wajah kalian ikut memucat?”&lt;br /&gt;“angin itu betul, kebahagiaan ketika kita berada dalam ketiadaan, kekosongan, ZERO. didalam ketiadaan, kau adalah makhluk bebas. apakah kau rindu dengan kebebasanmu?”&lt;br /&gt;“iya”&lt;br /&gt;“kalau begitu, mulailah menulis dari kebebasanmu” pena mulai berdiri miring kearahku. wajah beberapa lembar kertas terlihat merona. berseri.&lt;br /&gt;(Kelara, 21 Juli 2009)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7581121847635820599-8859438959801575722?l=maolien.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maolien.blogspot.com/feeds/8859438959801575722/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://maolien.blogspot.com/2009/08/zero.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7581121847635820599/posts/default/8859438959801575722'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7581121847635820599/posts/default/8859438959801575722'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maolien.blogspot.com/2009/08/zero.html' title='ZERO'/><author><name>M@rlin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05373679264799152151</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_F0vhTOurt9I/SyUWy8LvY8I/AAAAAAAAADU/0mfNQ9sHIvQ/S220/Copy+of+Copy+of+Copy+of+102_1148.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_F0vhTOurt9I/SplM7lmUZrI/AAAAAAAAAAc/EVk2N1VR2to/s72-c/CAGT2FS9.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7581121847635820599.post-8845213339564653624</id><published>2009-08-29T08:32:00.000-07:00</published><updated>2009-08-29T08:41:19.124-07:00</updated><title type='text'>CAHAYA</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_F0vhTOurt9I/SplMAzGHmDI/AAAAAAAAAAU/qpmbpPxtrhg/s1600-h/325x.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_F0vhTOurt9I/SplMAzGHmDI/AAAAAAAAAAU/qpmbpPxtrhg/s200/325x.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5375411206842980402" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pagi hari, selalu saja ada cahaya kecil dari lubang kecil dinding kamar. Jatuhnya terkadang tepat di mataku menarik-narik mataku,&lt;br /&gt;“bangunlah, diluar bayanganmu sudah menanti”&lt;br /&gt;Selalu saja cahaya kecil itu mengendap dari lubang sebesar mata kucing. Jatuhnya terkadang tepat di telingaku. Berbisik seperti membisik kekasihnya,&lt;br /&gt;“yang bahagia, buatlah sayap dari helai-helai do’a”&lt;br /&gt;Selalu saja ada cahaya kecil bersembunyi dibalik selimut. Menenteng kata di ujung anak panah . Aku ingin mengenalnya lebih dekat. Dari jenedela dan pintu kamar. Dan dia menoleh setengah teriak,&lt;br /&gt;“cukuplah kau mengenalku dari lubang kecil itu”.&lt;br /&gt;                                          &lt;br /&gt;                                                              (Sawitto, 21 Januari 09)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7581121847635820599-8845213339564653624?l=maolien.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maolien.blogspot.com/feeds/8845213339564653624/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://maolien.blogspot.com/2009/08/cahaya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7581121847635820599/posts/default/8845213339564653624'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7581121847635820599/posts/default/8845213339564653624'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maolien.blogspot.com/2009/08/cahaya.html' title='CAHAYA'/><author><name>M@rlin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05373679264799152151</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_F0vhTOurt9I/SyUWy8LvY8I/AAAAAAAAADU/0mfNQ9sHIvQ/S220/Copy+of+Copy+of+Copy+of+102_1148.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_F0vhTOurt9I/SplMAzGHmDI/AAAAAAAAAAU/qpmbpPxtrhg/s72-c/325x.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7581121847635820599.post-7254829350702051119</id><published>2009-08-29T08:27:00.000-07:00</published><updated>2009-08-29T08:28:57.381-07:00</updated><title type='text'>BANJIR</title><content type='html'>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CMarlin%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;link rel="themeData" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CMarlin%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx"&gt;&lt;link rel="colorSchemeMapping" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CMarlin%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;} @font-face 	{font-family:Calibri; 	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin-top:0in; 	margin-right:0in; 	margin-bottom:10.0pt; 	margin-left:0in; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoPapDefault 	{mso-style-type:export-only; 	margin-bottom:10.0pt; 	line-height:115%;} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin-top:0in; 	mso-para-margin-right:0in; 	mso-para-margin-bottom:10.0pt; 	mso-para-margin-left:0in; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:minor-fareast; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Banjir sudah berlalu. Ketika pagi buta ia datang, lalu menghilang begitu saja &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Jikapun ada yang tersisa, tentu bukan bagianku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Hujan masih saja bertabur gerimis. Seperti air mata. Tapi tak tampak ada yang bersedih. Hanya paras-paras lelah, seperti paras detik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Entah kemana perginya kemarau &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Yang menawarkan malam dingin. Kecerahan langit malam dengan bintang. Siangnya menebarkan kupu-kupu. Angin meniup panas yang tak mudah tersinggung.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;(Sawitto, 4 Januari 2009)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7581121847635820599-7254829350702051119?l=maolien.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maolien.blogspot.com/feeds/7254829350702051119/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://maolien.blogspot.com/2009/08/banjir.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7581121847635820599/posts/default/7254829350702051119'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7581121847635820599/posts/default/7254829350702051119'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maolien.blogspot.com/2009/08/banjir.html' title='BANJIR'/><author><name>M@rlin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05373679264799152151</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_F0vhTOurt9I/SyUWy8LvY8I/AAAAAAAAADU/0mfNQ9sHIvQ/S220/Copy+of+Copy+of+Copy+of+102_1148.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7581121847635820599.post-7933957004643059590</id><published>2009-08-29T08:20:00.000-07:00</published><updated>2009-08-29T08:25:36.784-07:00</updated><title type='text'>Demoralisasi dan Kegugupan Kita</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_F0vhTOurt9I/SplIRBIK3MI/AAAAAAAAAAM/3ZMkzRwa4b0/s1600-h/untitled.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 207px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_F0vhTOurt9I/SplIRBIK3MI/AAAAAAAAAAM/3ZMkzRwa4b0/s320/untitled.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5375407087441075394" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="post-body entry-content"&gt; Tanggung jawab guru makin lama makin rumit. Tiap hari dia harus menafsirkan kembali kehidupan modern. Lantaran kehidupan modern punya begitu banyak aspek dan sekian banyak matra, yang tak mungkin dipahami sepenuhnya dengan cara-cara konvensional. Sebagai manusia yang memiliki nilai, guru diperhadapkan dengan berbagai bentuk persoalan sebagai dampak modernisasi dalam dunia pendidikan. Mulai dari persoalan kesejahteraannya sampai perilaku immoral para siswa yang ujung-ujungnya guru menjadi sasaran kritik masyarakat sebagai factor yang tidak bisa membentuk manusia menjadi lebih baik. Belum lagi ketika guru, tanpa sadar diri, ikut terjerumus pada tindakan-tindakan yang dinilai masyarakat immoral, maka semakin berlipat-gandalah tekanan yang diterimanya. Beberapa kasus yang melibatkan oknum guru sebagai pelaku utama, seperti pelecehan seksual, aksi pemukulan, dan pembocoran soal UAN sudah menjadi berita basi bagi masyarakat. Kasus-kasus ini, ibarat pukulan telak terhadap dunia pendidikan kita, selanjutnya akan menimbulkan pertanyaan yang menggugah kesadaran kita. Bagaimana kualitas lulusan proyek pendidikan kita hari ini? Jika kita ingin menjawab seadanya, mungkin tidak jauh-jauh dari gambaran beberapa kasus diatas yaitu kualitas manusia Automaton – makhluk hidup yang bergerak dan berfikir serupa mesin, serba otomatis – atau dalam penegertian Erich Fromm, individu yang kehilangan hakikat dirinya sendiri, namun secara sadar ia anggap dirinya bebas dan hanya tunduk pada dirinya sendiri saja….alias terbenam dalam khayal tentang kejayaan individualitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun terlepas dari itu semua, guru sadar akan ketidaklengkapan dirinya sendiri, sadar akan ketidaklengkapan para muridnya, sang guru hanya mampu menjumpai siswanya tanpa mengobjekkan mereka. Guru hanya mampu membantu siswanya untuk menjadi manusia otonom, manusia mandiri. Dan saat itulah kegugupan mulai membayangi setiap guru ketika berhadapan langsung dengan para siswanya dalam kelas. Manusia otonom? bagaimanakah bentukannya ketika diperhadapkan dengan immoralitas yang seolah sudah menyatu erat disetiap sudut sekolah, disetiap bangku-bangku sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah artikel karya Maxime Greene, manusia otonom adalah manusia yang mampu mengambil keputusan terbaik bagi dirinya secara sadar dan mampu menjelaskan prinsip yang ia pegang dalam hidupnya. Ia mencoba lepas diri dari pengaruh otoritatif guru untuk melakukan tindakan yang menurut ia baik. Dalam hal ini, pengambilan keputusan demikian merupakan proses pendewasaan siswa. Ini juga berarti ada sistem nilai yang dianut oleh sang siswa. Sistem nilai yang mereka bentuk sendiri bersama teman-teman sebayanya. Tapi sang guru juga mempunyai keyakinan-keyakinan tersendiri, sistem nilai yang terstruktur dan sudah menjadi patokan utama dalam proses belajar mengajar. Kegugupan mulai menyerang guru ketika ternyata sistem nilai yang dibangun siswa ternyata bertolak belakang dengan sistem nilai yang dibangun oleh guru. Jika sang guru tidak mampu merasionalisasikan sistem nilainya akibat kegugupannya, tidak ada garansi bahwa sang siswa akan tetap bertahan dalam kelas. Pada akhirnya, perilaku-perilaku immoral menurut standar kemapanan hari ini, misalnya membolos, pelecehan seksual dan perkelahian sedikit demi sedikit muncul dipermukaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menghindari kegugupan berlangsung lama, guru mestinya memiliki prinsip dan berkomitmen pada prinsipnya tentang sistem nilai yang ia anut. Misalnya, sistem nilai bahwa pentingnya optimalisasi pengajaran didalam kelas dan tidak ada aktivitas yang boleh menginterupsi kegiatan ini, kecuali sang guru mengalah akibat kondisi kesehatan yang parah. Mengalah pun, sang guru mestinya mampu memberi rasionalisasi tentang kekalahannya sehingga tidak bisa hadir pada saat itu karena jika guru tidak mampu merasionalisasikannya maka siswa-siswa yang kurang motivasi belajarnya bisa saja lantas menyimpulkan “Ternyata guru kita berpendapat ada hal-hal lain yang lebih penting dikerjakan ketimbang bersekolah” dan memanfaatkan kejadian itu sebagai dasar pembentuk untuk membolos di kemuian hari. Sama halnya ketika guru berkali-kali terlambat memasuki ruangan kelas, kondisi ini pada suatu hari akan dipraktekkan oleh siswa.  &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Fenomena UAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kegugupan akan sikap immorilatas membolos para siswa dapat kita atasi –meski tidak tuntas- dengan membentuk sikap keteladan sebagai bentuk penjelasan yang rasional kepeda mereka, maka ada satu fenomena dimana guru mengalami kegugupan akut. Fenomena tersebut adalah UAN (Ujian Akhir Nasional).&lt;br /&gt;Baru saja kita merayakan perhelatan tahunan tersebut yang sering mengundang kecemasan bagi semua kalangan. Dengan standar kelulusan rata-rata 5,50 adalah standar yang tidak mudah untuk di capai. Perlu kerja keras dari para guru dan siswa untuk mencapai angka standar tersebut. Banyak hal telah dilakukan, pelajaran tambahan, bimbingan khusus, dan berbagai metode lain untuk meningkatkan kualitas pengetahuan menghadapi UAN. Namun waktu berjalan begitu cepat membuat raut muka para guru dan siswa gugup. Moralitas pun dipertaruhkan dengan mengacu pada dua pilihan yaitu menjadi manusia Homunculus (manusia murni yang memilih sesuatu dalam hidupnya untuk mengada sempurna) atau menjadi manusia Automaton (menilai segalanya dengan pandangan mekanistik). Jika sang guru memilih pilihan pertama, kemungkinan akan jatuh eksistensinya sebagai sekolah penyalur ilmu pengetahuan yang baik. Tapi jika pilihannya jatuh pada pilihan kedua, kemungkinan di satu sisi eksistensinya bertahan namun di sisi lain sang guru telah merusak moralitasnya sendiri, prinsipnya sendiri, dan kerja kerasnya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sangat tidak bijak jika kita blame the victim (menyalahkan korban). Pihak sekolah dalam hal ini guru adalah korban dari sistem birokrasi yang dibuat tanpa melakukan peninjauan secara teliti kebawah. Bahwa sebenarnya kita belum siap untuk menerapkan sistem tersebut. Bahwa masih ada hal yang lebih penting untuk dibenahi setuntas-tuntasnya yaitu sistem nilai kepribadian pendidik dan yang dididik, karena sulit bagi pihak sekolah untuk mencapai angka standar kelulusan jika masih ada kesalahpahaman sistem nilai antara siswa dan guru. Jika siswa masih berhadap-hadapan dengan kurikulum sekolah. Mereka masih menganggap kurikulum sebagai bentuk perampasan individualitas lewat despotisme tiranik.  &lt;/div&gt;  &lt;span class="post-author vcard"&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7581121847635820599-7933957004643059590?l=maolien.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maolien.blogspot.com/feeds/7933957004643059590/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://maolien.blogspot.com/2009/08/demoralisasi-dan-kegugupan-kita.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7581121847635820599/posts/default/7933957004643059590'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7581121847635820599/posts/default/7933957004643059590'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maolien.blogspot.com/2009/08/demoralisasi-dan-kegugupan-kita.html' title='Demoralisasi dan Kegugupan Kita'/><author><name>M@rlin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05373679264799152151</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_F0vhTOurt9I/SyUWy8LvY8I/AAAAAAAAADU/0mfNQ9sHIvQ/S220/Copy+of+Copy+of+Copy+of+102_1148.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_F0vhTOurt9I/SplIRBIK3MI/AAAAAAAAAAM/3ZMkzRwa4b0/s72-c/untitled.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
